Kenali Tetenger Lainnya
1 foto
Tulis Pesan & Kesan
Tetenger
Tetenger Brayut
Padukuhan Brayut, Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sleman
RINGKASAN TETENGER
Informasi Lokasi
Jenis
Tetenger
Status
Aktif
Koordinat Lokasi
Latitude: -7.7022765
Longitude: 110.3728822
INFORMASI TETENGER
Mengenal Tetenger
Dibangun oleh : Pemda Sleman
Waktu Peristiwa : 6 Mei 1949
Bentuk bangunan : Tugu perjuangan yang berdiri di atas bangunan berundak-undak
Relief : Pada dinding sisi barat terdapat relief rantai yang mengelilingi padi, kapas, senapan, bambu runcing, obor yang menyala dan topi baja. Di bagian bawah terdapat relief daftar nama-nama para pahlawan yang gugur pada hari Jumat, 6 Mei 1949.
Pada dinding tugu yang menghadap utara terdapat relief yang menggambarkan lambag pemerintah daerah Kabupaten Sleman.
Pada dinding tugu yang menghadap ke arah timur terdapat daftar nama rakyat yang gugur pada masa Agresi Belanda tahun 1948/1949.
Latar Belakang
Brayut dalam pusaran Agresi Militer Belanda II
Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, tepatnya setelah peristiwa Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, wilayah pedesaan di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Setelah Belanda berhasil menguasai Yogyakarta, para pejuang Republik Indonesia melakukan perlawanan dengan strategi perang gerilya dan tersebar di berbagai wilayah yang jauh dari pusat kota. Perjuangan tersebut tidak hanya dilakukan oleh kesatuan tentara, namun juga melibatkan laskar rakyat, kelompok pemuda, dan masyarakat desa. Desa-desa di wilayah Sleman memiliki peran strategis dalam mendukung perjuangan dalam menyediakan tempat persembunyian, logistik, jalur komunikasi, serta sebagai basis pergerakan pasukan gerilya. Salah satu wilayah yang memiliki peranan tersebut adalah Padukuhan Brayut, Kalurahan Pandowoharjo, Kapanewon Sleman.
Terbentuknya kekuatan perjuangan Beran-Brayut
Keterlibatan Padukuhan Brayut dalam perjuangan kemerdekaan tidak lepas dari keberadaan kelompok pemuda dan laskar rakyat di wilayah Sleman. Berdasarkan penelitian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1992, di wilayah Beran Lor telah terbentuk kelompok perjuangan rakyat di bawah koordinasi Bakir. Bakir merupakan mantan anggota Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) pada masa pemerintahan kolonial Belanda dan pernah menjadi anggota Heiho pada masa pendudukan Jepang. Dalam menghimpun para pemuda, Bakir dibantu oleh Sriyono yang pernah bergabung dalam kesatuan Polisi Militer. Pada awal pembentukannya, kelompok pemuda yang dihimpun oleh Bakir dan Sriyono tersebut hanya beranggotakan 21 orang dengan persenjataan terbatas terdiri dari lima senapan, satu pistol, dan beberapa granat. Selain itu, para pejuang harus berjuang menggunakan berbagai cara untuk menghadapi patroli Belanda termasuk dengan menggunakan peralatan seperti linggis, kapak, tombak, dan parang.
Pada Maret 1949, kelompok Bakir dan Sriyono di Beran Lor menjalin hubungan dengan para pemuda di Brayut yang dipimpin oleh Suparjo Suryo untuk meminta bantuan logistik. Para pemuda di Brayut menyambut baik kelompok Bakir dan Sriyono dengan memberikan bantuan bahan pangan dan tambahan tenaga perjuangan dari para pemuda. Kelompok gabungan pejuang Beran dan Brayut kemudian dikenal sebagai Persatuan Beran–Brayut. Dalam kepemimpinannya, Suparjo Suryo bertanggung jawab atas pengadaan persenjataan, penyediaan bahan pangan, serta koordinasi dengan Tentara Nasional Indonesia dan laskar rakyat lainnya. Sementara itu, Bakir bertugas dalam mengatur pasukan ketika menjalankan operasi.
Peristiwa penyerbuan Belanda di Brayut, 6 Mei 1949
Kelompok Beran-Brayut terus berkembang dan menjalin kerja sama dengan kesatuan Tentara Pelajar. Kelompok tersebut juga melakukan berbagai perlawanan untuk menghadang patroli Belanda di jalur Yogyakarta-Magelang, mengganggu sejumlah pos pertahanan Belanda di Beran, Medari, Kledokan, Pakem, dan Kaliurang, serta berpartisipasi pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949. Berbagai aktivitas kelompok dari Beran–Brayut tersebut terus merugikan dan mengganggu kepentingan militer Belanda sehingga Belanda pun menjadi kesal. Kekesalan Belanda ini kemudian menjadi salah satu latar belakang terjadinya penyerangan pada wilayah Brayut pada tanggal 6 Mei 1949.
Pada Jumat, 6 Mei 1949, situasi di wilayah Brayut dan sekitarnya berubah menjadi genting sejak pagi buta. Pada saat melaksanakan sembahyang Subuh, Bakir menerima laporan dari seorang anggota Polisi Pagar Praja bernama Supeni. Ia melaporkan bahwa pasukan Belanda dalam jumlah besar telah bergerak dari arah Yogyakarta menuju ke utara dan telah memasuki wilayah di dekat Padukuhan Brayut. Mendapatkan informasi tersebut, Bakir sebagai komandan penyerangan segera membangunkan anak buahnya. Dari sekitar 35 orang anggota, ternyata hanya sembilan orang yang berada di lokasi markas. Sebagian anggota lainnya telah meninggalkan markas tanpa memberikan laporan. Dengan jumlah kekuatan yang tersisa, Bakir memerintahkan anak buahnya untuk menghindari sergapan pasukan Belanda. Sebagai langkah pengamanan, untuk sementara waktu persenjataan disembunyikan dengan cara ditenggelamkan agar tidak ditemukan oleh pihak musuh. Keselamatan anggota menjadi prioritas dalam menghadapi situasi yang semakin berbahaya. Bakir kemudian memerintahkan pasukannya untuk menyelamatkan diri dan bergerak ke arah utara.
Pada pagi itu, Sriyono juga dikejutkan oleh pemandangan penduduk Brayut bagian utara yang berlari menuju arah selatan. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari tembakan dan serangan pasukan Belanda yang diarahkan secara membabi buta ke kawasan permukiman. Situasi semakin kacau ketika penduduk dari bagian selatan bergerak ke arah utara, sementara penduduk dari utara melarikan diri ke selatan. Pergerakan penduduk yang berlawanan tersebut menyebabkan masyarakat kesulitan dalam mencari jalur penyelamatan yang aman.
Tak hanya itu, pada waktu yang hampir bersamaan, pasukan Tentara Pelajar Detasemen III Brigade 17 yang dipimpin oleh Martono juga memperoleh informasi mengenai pergerakan pasukan Belanda. Mereka segera mengambil posisi pertahanan di wilayah yang tak jauh dari Brayut. Pasukan Tentara Pelajar tersebut juga memiliki persenjataan yang terbatas sehingga perlu strategi yang cermat dalam menghadapi musuh. Pasukan Belanda kemudian bergerak mendekati posisi pertahanan dari arah timur melalui area persawahan. Ketika pasukan Belanda sudah berada dalam jarak yang cukup dekat, pasukan Tentara Pelajar mulai meluncurkan serangan. Serangan tersebut ternyata tidak mendapatkan perlawanan dari pihak musuh dan pasukan Belanda justru mundur kembali ke arah semula. Akan tetapi, pasukan pejuang kembali dikejutkan dengan pergerakan pasukan Belanda lainnya dari arah utara. Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan pasukan belanda berlangsung dari beberapa arah dan menciptakan situasi yang semakin mengancam kawasan Brayut dan sekitarnya. Di tengah keterbatasan senjata, para pejuang juga harus mempertimbangkan keselamatan penduduk dalam strategi perlawanannya. Oleh sebab itu, para gerilyawan akhirnya meninggalkan posisi pertahanan untuk menghindari jatuhnya korban dari kalangan penduduk.
Dalam kondisi yang semakin terdesak, para pejuang berusaha memberikan perlindungan kepada masyarakat sipil. Mereka meluncurkan tembakan dengan maksud untuk mengalihkan perhatian pasukan Belanda dan memberikan kesempatan kepada masyarakat agar dapat menyelamatkan diri. Setelah itu, Sriyono, Bakir, dan para anggotanya berusaha menyelamatkan diri. Pasukan Belanda terus melakukan pengejaran dengan tembakan-tembakan yang menyasar setiap laki-laki di sepanjang jalur mereka. Akibat serangan tersebut, banyak korban jiwa yang berjatuhan di sepanjang jalan kawasan Brayut, baik dari kalangan masyarakat maupun anggota Persatuan Beran–Brayut.
Makna Sejarah Pertempuran Brayut
Peristiwa 6 Mei 1949 memiliki arti penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Sleman. Pertempuran tersebut menunjukan adanya keterlibatan berbagai unsur perjuangan seperti kesatuan militer, kelompok pemuda Beran–Brayut, serta masyarakat sipil. Tokoh pemimpin seperti Bakir, Sriyono, dan Suparjo Suryo memperlihatkan adanya koordinasi serta pembagian peran dalam menghadapi operasi militer Belanda. Masing-masing kelompok menghadapi situasi yang berbeda, mulai dari upaya menghindari pengepungan, mempertahankan posisi pertahanan, hingga memberikan perlindungan kepada penduduk.
Peristiwa tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat desa memiliki posisi penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dengan memberikan dukungan logistik, penyediaan tempat berlindung, informasi pergerakan musuh, dan keterlibatan pemuda menjadi bagian dari jaringan perjuangan yang berlangsung di wilayah Sleman.
Penyerangan Brayut meninggalkan jejak sejarah serta memori kolektif masyarakat yang kemudian diabadikan melalui Tetenger Brayut atau Monumen Palagan Brayut. Tetenger tersebut bukan sekadar penanda lokasi terjadinya pertempuran, tetapi juga menjadi pengingat atas pengorbanan para pejuang dan masyarakat sipil dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
CATATAN PERJUANGAN
Peristiwa Sejarah Perjuangan
Pejuang yang Gugur
1. Sarjiman
2. R. Budiwiyono
3. Darmo Suprapto
4. Pawirodimejo
5. Kromo
6. Suridikromo
7. Cokrowiharjo
8. Jono
9. Kusen
10. Haryono
11. Suprapto
12. R. Supraptoharjo
13. Wongso Paijo
14. Dalijo
Sumber Sejarah
Dinas Sosial Kabupaten Sleman. 2000. Tempat-Tempat Bersejarah Perjuangan Bangsa Kabupaten Sleman. Sleman: Dinas Sosial Kabupaten Sleman.
Haryono, P. S., Mochtaruddin Ibrahim, dan Darto Harnoko. 1987. Monumen Perjuangan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tashadi, Darto Harnoko, Suratmin, dan Hisbaron Muryantoro. 1992. Peranan Desa
dalam Perjuangan Kemerdekaan: Studi Kasus Keterlibatan Beberapa Desa di Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 1945–1949. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
DOKUMENTASI
Foto & dokumentasi
UJI PENGETAHUANMU
Kuis Tetenger
Kuis untuk tetenger ini belum tersedia.
CERITA PENGUNJUNG
Pesan & Kesan
Baca pengalaman pengunjung dan bagikan kesanmu.
Belum ada penilaian bintang untuk tetenger ini.
Belum ada pesan yang disetujui.
FAVORIT PRIBADI
Simpan tetenger yang kamu suka
Register untuk menyimpan tetenger favorit dan menemukannya kembali kapan saja.
RegisterSudah punya akun? Masuk