Kenali Tetenger Lainnya
Tetenger

Tetenger Rejodani

Padukuhan Rejodani, Kalurahan Sariharjo, Kapanewon Ngaglik

Informasi Lokasi

Jenis

Tetenger

Status

Aktif

Koordinat Lokasi

Latitude: -7.7143470

Longitude: 110.3851660

Mengenal Tetenger

Dibangun oleh : Pemda Sleman Waktu Peristiwa : 29 Mei 1949 Bentuk bangunan : Tugu perjuangan yang berdiri di atas bangunan berundak-undak Relief : Terdapat relief rantai yang megelilingi padi, kapas, senapan, bambu runcing, topi baja, dan bintang lima.

Latar Belakang

Pada masa Agresi Militer Belanda II, setelah Yogyakarta diduduki pasukan Belanda pada 19 Desember 1948, perjuangan mempertahankan kemerdekaan terus berlangsung melalui berbagai bentuk perlawanan. Di wilayah Sleman bagian utara, kekuatan pertahanan Republik Indonesia diperkuat dengan pembentukan Komando Distrik Militer (KDM) di tingkat kabupaten dan Komando Onder Distrik Militer (KODM) di tingkat kecamatan atau kapanewon. Kapanewon Ngaglik menjadi bagian penting dari pertahanan Republik Indonesia melalui Komando Onder Distrik Militer (KODM) Ngaglik yang dipimpin oleh Bachrun. Perjuangan di wilayah tersebut tidak hanya mengandalkan kekuatan pejuang bersenjata, namun juga melibatkan dukungan dari masyarakat. Masyarakat berperan terutama dalam menyediakan kebutuhan seperti tempat tinggal, makanan, tenaga, serta berbagai kebutuhan lain bagi para pejuang. Salah satu tokoh masyarakat yang berperan penting adalah Haji Harun dari Rejodani. Haji Harun adalah seorang pengusaha yang banyak membantu memenuhi kebutuhan Komando Onder Distrik Militer (KODM) Ngaglik, termasuk dalam mengusahakan senjata dan memberikan dukungan logistik. Tak hanya itu, Haji Harun juga menjadi bagian dari perjuangan yang menghubungkan masyarakat dengan kekuatan militer di wilayah tersebut. Selain KODM, wilayah ini juga menjadi daerah operasi bagi Detasemen III Brigade 17 Tentara Pelajar (TP) yang dipimpin oleh Martono. Mereka tersebar dan beristirahat di rumah-rumah penduduk secara berpindah-pindah sebagai bagian dari strategi gerilya untuk menghindari sergapan pasukan Belanda. Pertempuran 29 Mei 1949 Pada Mei 1949, pasukan Tentara Pelajar di bawah pimpinan Letda Aliadi telah berada di wilayah Ngetiran selama beberapa hari. Mereka berencana berpindah ke tempat lain untuk menghindari serangan musuh. Pada tanggal 29 Mei 1949, beredar pengumuman mengenai rencana gencatan senjata antara pasukan Republik Indonesia dan Belanda. Selaku komandan pasukan, Letnan Aliadi kemudian berangkat untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut dari atasannya. Ketika pasukan Tentara Pelajar bersiap berpindah dari Ngetiran pada pukul 09.00–10.00, seorang perempuan bernama Parinah menyampaikan kabar bahwa pasukan Belanda sedang bergerak menuju wilayah tersebut. Sersan Suwono sebagai Komandan Regu I Peleton III pun segera mengambil alih pimpinan dan mengerahkan pasukannya untuk menghadang gerak pasukan Belanda. Sersan Suwono bersama sejumlah anggota kemudian bergerak menghadang pasukan Belanda di sekitar jalur irigasi. Pertempuran pun terjadi antara pasukan Tentara Pelajar dan pasukan Belanda di wilayah Ngetiran dan Rejodani. Para pejuang dengan jumlah yang terbatas memberikan perlawanan sengit dengan memanfaatkan saluran irigasi, tanggul, dan lingkungan permukiman sebagai perlindungan. Pada awalnya, serangan pasukan pejuang tersebut dapat membuat pasukan Belanda mundur. Akan tetapi, keadaan berubah ketika pasukan Belanda datang dari arah lain sehingga posisi para pejuang semakin terdesak. Di sisi lain, Regu II Peleton III Tentara Belajar bersama anggota KODM Ngaglik dan satu peleton dari Batalyon 151 mengambil posisi pertahanan di bagian selatan Ngetiran. Mereka berusaha menahan pergerakan pasukan Belanda agar tidak memasuki kawasan permukiman. Berkat bantuan dari berbagai pihak termasuk masyarakat setempat, pasukan Tentara Pelajar berhasil memukul mundur pasukan Belanda sehingga gagal menguasai wilayah Ngetiran dan Rejodani. Dalam pertempuran tersebut, pasukan Sersan Suwono telah berjuang meskipun terkepung dari berbagai arah. Mereka tetap bertahan hingga sebagian besar gugur dalam pertempuran. Setelah pertempuran berakhir, para pejuang yang gugur dikumpulkan dan disemayamkan di Masjid Rejodani. Mereka kemudian dimakamkan di pemakaman Rejodani. Pada tanggal 12 Agustus 1949, jenazah para pejuang tersebut dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta. Pertempuran Rejodani menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan oleh pasukan bersenjata, namun juga mendapat dukungan kuat dari masyarakat. Dengan jumlah pasukan dan persenjataan yang terbatas, para pejuang bersama rakyat tetap memberikan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Tetenger Rejodani dibangun untuk mengenang keberanian dan pengorbanan masyarakat serta para pejuang dalam Pertempuran Rejodani. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan oleh kekuatan militer, namun juga didukung oleh keberanian, pengorbanan, dan dukungan masyarakat. Melalui tetenger ini, mari mengenali jejak perjuangan yang pernah terjadi, menjaga ingatannya, serta mewariskan nilai keberanian serta pengorbanan kepada generasi mendatang.

Peristiwa Sejarah Perjuangan

Pejuang yang Gugur

a. Harsono b. Soewono c. Soekapdi FX d. Soerojo e. Soepanoto f. Darjono g. Soenarto h. Alibasjah

Sumber Sejarah

Haryono, P. Suryo, Muchtaruddin Ibrahim, dan Darto Hamoko. 1987. Monumen Perjuangan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Bagian Palagan Rejodani, hlm. 17–21; uraian Monumen Rejodani, hlm. 74 Tashadi, dkk. 1992. Peranan Desa dalam Perjuangan Kemerdekaan: Studi Kasus Keterlibatan Beberapa Desa di Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 1945–1949. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kuis Tetenger

Kuis untuk tetenger ini belum tersedia.

Pesan & Kesan

Baca pengalaman pengunjung dan bagikan kesanmu.

Belum ada penilaian bintang untuk tetenger ini.